FANA' DAN BAQA'
MAQAM FANA' DAN BAQA'
SUTEJO IBNU PAKAR
Maqom tertinggi para sufi
adalah ma’rifatullah dengan mata hati (bashirah).
Melihat Allah dengan mata hati diyakini
dapat dilakukan semasa hidup di dunia bagi siapapun hamba Allah yang dikarunia
hati yang suci dan bersih, terbebas dari godaan hawa nafsu dan kecenderungan
terhadap kehidupan duniaiwi. Melihat Allah (ma’rifatullah) dialami oleh
seorang hamba Allah yang benar-benar sudah mengalami tahapan fana` dan baqa` (istigraq) dimana ia benar-benar bertatap muka dan
berhadap-hadapan dengan-Nya.
Maqom fana’ itu merupakan hasil dari usaha
spiritual atau mujahadah.
Menurut Ibn ‘Arabi, dalam menempuh maqomat sufi atau calon sufi
senantiasa melakukan bermacam-macam ibadah, mujahadah dan riyadhoh
yang sesuai dengan ajaran agama, sehingga satu
demi satu maqom itu dilalauinya dan sampailah ia pada maqom
puncak yaitu ma’rifatullah. [1]
Tahap penyaksian, musyahadah atau syuhud,
menurut al-Banjari, menunjuk pada
peringkat terakhir dari peringkat
tauhid yang berhasil dicapai seorang sufi yang telah mencapai ma’rifat,
yakni tawH id dzat. Dalam keadaan
demikian seorang hamba benar-benar menyaksikan bahwa yang benar-benar ada
hanyalah Allah. Ketika itu, perasaan hamba segera fana` (sirna) dalam
ketuhanan, yang segera diganti dengan perasaan baqa` (kekal)
bersama-Nya. Dengan demikian pada diri hamba akan terjelma sifat jamal
dan jalal Allah. [2] Dalam keadaan demikian seseorang merasakan
benar-benar terbuka (inkisyaf) dan merasa benar-benar dekat dengan
Allah. Tingkat keimanan atau tawhidnya
sudah benar-benar puncak yaitu tingkat iman Haqiqatul Yaqin, yang dalam term al-Banjari disebut tawhid
Dzat.
Ibn ‘Arabi
memandang maqom fana` dan baqa` adalah maqom terakhir setelah seorang sufi
melalui berbagai Maqom sebelumnya.[3] Dalam keadaan demikian manusia kembali kepada wujud aslinya, yakni
Wujud Mutlak. Fana`dan baqa` adalah
sirnanya kesadaran manusia terhadap segala alam fenoena, dan bahkan
terhadap nama-nama dan sifat-sifat Tuhan
(fana` Shifat al-Haqq), sehingga
yang betul-betul ada secara hakiki dan abadi (baqa` ) di dalam
kesadarannya ialah wujud Yang Mutlak.[4] Ketika
seorang sufi sudah mencapai peringkat fana` yang sepenuhnya, yang dirasakannya ada hanya
Dzat Allah.[5] Dalam
proses kembali ke asal, fana` dan baqa` , dalam pandangan Ibn
‘Arabiy, seorang sufi harus memulai dengan perjalanannya menuju tajalli
perbuatan-perbuatan (tajalli al-Af’al) dengan memandang bahwa, kodrat
Allah berlaku atas segala sesuatu. Dengan demikian, segala perbuatannya
senantiasa terkendali di bawah kodrat Allah. Setelah itu, ia pun
melintasi tajalli nama-nama dimana ia mendapat sinar dari asma Allah.
Dalam taraf ini sufi memandang Dzat Allah sebagai pemilik nama-nama yang hakiki
adalah Dzat Yang Maha Suci. Dengan demikian, satu demi satu dari nama-nama
Allah itu memberikan pengaruh kepadanya.[6]
Menurut al-Ghazali, yang diperoleh seorang hamba dari
nama-nama (asma’ Allah) adalah taalluh
(penuhanan) yang berarti bahwa hatinya dan niatnya karam di dalam Allah,
sehingga yang dilihatnya hanyalah Allah.[7]
Musyahadah atau dalam tasawwuf disebut fana`,
bagi al-Ghazali, merupakan derajat paling
tinggi dimana seseorang hamba melihat hanya satu wujud.[8] Kemudian,
sufi memasuki tajalli sifat-sifat, dimana ia diliputi oleh sifat-sifat
Allah. Dalam tahapan ini sufi merasakan dirinya fana` di dalam
sifat-sifat Allah, sehingga sifat-sifat dirinya sendiri dirasakannya sudah
tidak ada lagi. Tahap tertinggi yang dicapai oleh sufi ialah ketika ia berada
pada tajalli Dzat. Pada taraf ini sufi merasa dirinya sirna di dalam
Dzat Yang Maha Mutlak sepenuhnya.[9]
Al-Ghazali tidak sepaham dan menolak ajaran penyatuan
manusia dengan Allah (ittihad-nya al-Basthami, hulul-nya
al-Hallaj, dan wihdat al-Wujud-nya Ibn ‘Arabi) sebagai puncak ma’rifat.
Ia membatasi hanya sebatas pada fana` dalam arti lenyapnya akhlak tercela dan baqa’
dalam arti kekalnya akhlak terpuji seseorang hamba yang menuju Allah.
Keadaan fana` adalah keadaan seorang hamba
yang secara lahiriah tidak sadarkan diri dalam tempo beberapa jam
tetapi masih tetap hidup, hanya saja ruh robbani-nya sedang musyadah (menghadap Allah). Keadaan demikian oleh
al-Ghazali dimaknai sebagai fana` dari diri sendiri yang membuat seseorang yang mengalaminya berada
kondisi merasakan kehadiran Allah; dan
tidak dapat membuka pandangan kecuali hanya kepada Allah. Kondisi demikian juga
berakibat tidak sadarkan diri kecuali dari segi statusnya sebagai hamba semata.
Itulah yang disebut fana` al-Nafs
dan ‘ilm al-Haqiqi.[10]
[1] ibn ‘Arabi
, Futûhat al-Makkiah, J.II,
384-385.
[2]
al-Banjari, Muhammad Nafis, Durr
al-Nafis, Singapura,
Haramain, t.th., 23-24.
[3] ibn ‘Arabi
, Fushûh al-Hikam,
366-367.
[4] Nichlosn,
R.A., Fi al-Tasawwuf al-Islami wa Tarikhih,
ed. Afifi, Kairo,
Lajnah Ta’lif wa al-Nasyr, 1969, 23-25.
[5] Nichlosn, Fi
al-Tasawwuf al-Islami wa Tarikhih, 173.
[6] ibn ‘Arabi
, Fushûh al-Hikam, 56-70.
[7]
al-Ghazali, al-Maqashid
al-Asna, Kairo, Dar al-Fikr, 1322, h. 38.
[8]
al-Ghazali, Ihya` ‘Ulûm al-Din, J. IV, 244.
[9] ibn ‘Arabi
, Fushûh al-Hikam, 70-72.
[10]
al-Ghazali, Ihya’ Ulûm al-Din, J. IV, 256.