PROSES PEMBELAJARAN MANUSIA Sutejo Ibnu Pakar
PROSES PEMBELAJARAN MANUSIA
Proses
pembelajaran (pencarian ilmu), bagi al-Ghazali,
dapat dikategorikan menjadi : al-Ta’lim al-Isnani dan al-Ta’lim al-Rabbani.[1] Proses pembelajaran model pertama bisa ditempuh dengan bantuan guru atau
orang lain, dan juga bisa ditempuh dengan jalan autodidak melalui
perenungan-perenungan, atau eksperimen
secara empiris.
pembelajaran (pencarian ilmu), bagi al-Ghazali,
dapat dikategorikan menjadi : al-Ta’lim al-Isnani dan al-Ta’lim al-Rabbani.[1] Proses pembelajaran model pertama bisa ditempuh dengan bantuan guru atau
orang lain, dan juga bisa ditempuh dengan jalan autodidak melalui
perenungan-perenungan, atau eksperimen
secara empiris.
Sedangkan proses pembelajaran model kedua bisa dilalui
dengan cara wahyu seperti yang dialami para nabi dan rasul, dan bisa dengan
jalan ilham. Ilmu yang diperoleh dengan cara ini disebut ‘al-Ilmu al-Ladunni
yaitu ilmu yang perolehannya tidak
melalui perantara.[2] ‘Ilmu
laduni itu bisa diperoleh
dengan cara-cara yang lazim berlaku seperti melalui riyadhah secara
benar dan muraqabah. Atau bisa juga diperoleh dengan jalan
mengintensifkan aktivitas tafakkur. Ilmu ini terkait dengan masalah-masalah metafisik atau
mughayyabat. Ilmu ini diharapkan dapat memperkuat dan menyempurnakan
ilmu dan keimanan [3].
dengan cara wahyu seperti yang dialami para nabi dan rasul, dan bisa dengan
jalan ilham. Ilmu yang diperoleh dengan cara ini disebut ‘al-Ilmu al-Ladunni
yaitu ilmu yang perolehannya tidak
melalui perantara.[2] ‘Ilmu
laduni itu bisa diperoleh
dengan cara-cara yang lazim berlaku seperti melalui riyadhah secara
benar dan muraqabah. Atau bisa juga diperoleh dengan jalan
mengintensifkan aktivitas tafakkur. Ilmu ini terkait dengan masalah-masalah metafisik atau
mughayyabat. Ilmu ini diharapkan dapat memperkuat dan menyempurnakan
ilmu dan keimanan [3].
Metode yang lazim didalam proses pendidikan intelek itu
adalah metode penalaran dan metode perenungan terhadap kedalaman makna
penciptaan alam semesta. Metode penalaran pertama-tama dilakukan dengan cara
mengosongkan akal fikiran dari informasi-iformasi lama yang mendatangkan
keragauan yang terlanjur sudah masuk ke dalam akal fikiran. Kemudian,
dilakukanlah proses penguatan sebelum kemudian meyakini akan kebenarannya.
adalah metode penalaran dan metode perenungan terhadap kedalaman makna
penciptaan alam semesta. Metode penalaran pertama-tama dilakukan dengan cara
mengosongkan akal fikiran dari informasi-iformasi lama yang mendatangkan
keragauan yang terlanjur sudah masuk ke dalam akal fikiran. Kemudian,
dilakukanlah proses penguatan sebelum kemudian meyakini akan kebenarannya.
Sedangkan metode kedua adalah merenungkan (tadabbur)
seluruh fenomena yang terdapat di alam semesta ini berkenaan dengan aturan,
hukum dan sunnah Allah yang berlaku padanya. Metode ini diharapkan dapat lebih
memperkuat dan mengembangkan potensi ruh sehingga ada keterkaitan yang kuat dan
harmonisasi yang utuh antara akal dan ruh.
seluruh fenomena yang terdapat di alam semesta ini berkenaan dengan aturan,
hukum dan sunnah Allah yang berlaku padanya. Metode ini diharapkan dapat lebih
memperkuat dan mengembangkan potensi ruh sehingga ada keterkaitan yang kuat dan
harmonisasi yang utuh antara akal dan ruh.