PENGALAMAN PUNCAK
IBADAH HAJI : PENGALAMAN PUNCAK
SUTEJO IBNU PAKAR
Haji adalah rukun Islam yang kelima atau
terakhir. Ibadah haji mensyaratkan
kesiapan yang sangat prima, karena didalamnya ada ketentuan yang mencerminkan pengalaman puncak
ibadah seseorang. Ibadah haji mensyaratkan kesiapan dalam berbagai hal seperti
kekuatan motivasi (niat), kesiapan fisik termasuk kesehatan berbeda dengan
puasa yang jsutru mengharuskan kemampuan menahan lapar dan haus sepanjang hari.
Ibadah haji mensyaratkan
kesiapan dan kecukupan harta berbeda dengan ibadah puasa yang tidak membutuhkan modal
harta. Berbeda dengan ibadah shalat yang
sekadar membutuhkan pakaian penutup aurat dan air untuk bersuci, serta tempat
secukupnya. Atau ibadah zakat yang mengharuskan pengeluaran sekadar sesuai
ketentuan (nishab).
Berbeda denan ibadah sahalat ibadah haji mensyaratkan kesiapan fisik untuk
melakukan pergerakan dari satu tempat ke tempat lain yang membutuhkan banyak
tenaga dan stamina yang prima. Ibadah
haji juga membutuhkan pelengkap seperti alat transportasi dan
fasilitas akomodasi memadai.
Prateknya, ibadah haji mensyaratkan setiap
pribadi untuk mempau beradaptasi dan berkomunikasi dengan siapa dengan tidak memandang
perbedaan kulit, ras, atau negara asal setiap orang. Ibadah haji adalah ibadah
yang mendidik setiap pribadi mampu memposisikan diri sebagai makhluk Allah yang
sama dan sederajat di hadapan Allah. Tidak memadang seseorang dari keturunan
(nasab), keilmuan, kekayaan, status sosial dan bahkan usia sekalipun.
Syahadat berfungsi sebagai “mission statement”, puasa sebagai “self controlling”, serta zakat dan haji
sebagai peningkatan “social intelligence” atau kecerdasan sosial. Islam
menuntut penganutnya agar senantiasa melaksanakan rukun Islam secara konsisten
dan kontinu.