MA’RIFAT
MA’RIFAT
SUTEJA
Tahapan puncak
spiritual sufi ialah
ketika ia mencapai ma’rifat dan mahabbah,
sebagai pelukisan betapa dekatnya hubungan dengan Tuhan. Mahabbah melukiskan
keakraban dalam bentuk cinta, sedangkan ma’rifat melukiskan keakraban dalam
bentuk musyahadah (melihat Tuhan) dengan hati sanubari. Ma’rifat dimulai
dengan mengenal dan menyadari jati diri. “Barangsiapa mengenal dirinya, niscaya
ia akan mengenal Tuhannya”.
Ma’rifat berarti
mengetahui Tuhan dari dekat sehingga hati sanubari melihat Tuhan. Ma’rifat bukan
hasil pemikiran manusia tetapi bergantung kepada kehendak dan rahmat Tuhan.
Ma’rifat adalah pemberian Tuhan kepada sufi yang sanggup menerimanya. Alat
untuk memperoleh ma’rifat oleh kaum sufi disebut sirr. Ma’rifat melukiskan keakraban dalam bentuk musyahadah (melihat
Tuhan) dengan hati sanubari.
Kesempurnaan
ma’rifat ialah dengan mengetahui asma Allah, tajalli Allah,
taklif Allah terhadap hamba-Nya, kesempurnaan dan kekurangan wujud alam
semesta, mengetahui diri sendiri, alam akhirat, sebab dan obat penyakit batin. Menurut
al-Ghazali tingkat ma’rifat tertinggi yang harus dicapai
seorang sufi adalah memandang Allah secara langsung dengan mata hati yang
terbebas dan bersih dari segala kecenderungan terhadap duniawi.
Ma’rifat dimulai
dengan mengenal dan menyadari jati diri. Dengan mengenal dan menyadari jati
diri niscaya sufi akan kenal dan sadar terhadap Tuhannya. Kesadaran akan eksistensi Tuhan berarti
mengenal Tuhan sebagai wujud hakiki yang mutlak, sedangkan wujud yang
selain-Nya adalah wujud bayangan dan bersifat nisbi.
Muhyi al-Din Ibn ‘Arabi, Fushûh al-Hikâm wa al-Ta’liqât alayh, al-Iskandariyah, J. II,
h. 101.